Minggu, 07 Februari 2010
Selalu Bersama
Umumnya tempat pemondokan memberikan sebuah kartu pengenal/kartu nama pemondokannya, namun ditulis dalam bahasa Arab gundul. Maklum petugas haji dari Arab itu sendiri umumnya tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, mereka cukup pede dengan bahasa mereka. Jadi dalam kondisi begini, mulailah gelap.... :)
Pemeriksaan Buku Kesehatan di Imigrasi Madinah
Banyak selebaran, serta dalam berbagai bentuk media lainnya yang menyarankan agar masyarakat, baik jemaah haji, maupun penduduk lokal untuk menggunakan pelindung dan penyaring pernapasan (masker).
Pada saat memasuki Arab Saudi, setiap jemaah diperiksa dokumentasi kesehatan mereka. Mereka ingin memastikan, apakah calon jemaah tersebut terhindar dari penyakit yang mungkin masuk ke negara mereka. Paling tidak meminimalisasi kemungkinan.
Imigrasi Madinah
Langkah pertama yang harus dipersiapkan ketika masuk ke suatu negara adalah perlengkapan surat-surat imigrasi. Khusus untuk Jemaah Haji, harus di dukung dengan dokumen lain, yaitu buku kesehatan dan bukti vaksinasi. Semua harus lengkap, pemeriksaan di imigrasi ini ketat. Persiapkan dokumen pengenal anda biar tidak terjadi permasalahan.
Alhamdulillah hampir setiap jemaah haji dapat melewati proses ini, mengingat sebelumnya, pemerintah melalui panitia haji yang ditunjuk selalu mengawasi hal ini.
Kendala bahasa mulai dirasakan di sini, mengingat petugas yang mereka tunjuk adalah warga arab itu sendiri. Sepertinya mereka juga tidak terlalu bisa berbahasa Inggris, sehingga kita harus menggunakan berbahasa isyarat.
Menariknya, para petugas imigrasi ini ada kalanya menggunakan bahasa Indonesia, dan menyambut tamu Allah dari negara kita ini dengan hangat, meskipun sedikit dingin sebelum proses administrasi kita selesai dilaksanakan.
Persiapan Berangkat
Karena perjalanan diperkirakan sekitar sembilan jam, direct dari Cengkareng ke Madinah, dan waktu pemberangkatan menjelang magrib, umumnya jemaah berwudhu. Khusus Gelombang Pertama Tujuan Pesawat langsung ke Madinah, sedangkan untuk Gelombang kedua Tujuan Pesawat adalah Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.
Berbagai fasilitas tersedia di tempat menunggu ini. Termasuk tempat berwudhu. Mengingat Terminal 3 Cengkareng ini memang dipersiapkan khusus untuk pemberangkatan haji. Sehingga fasiltias pendukung pun sudah mereka sediakan, meskipun mungkin terminal ini hanya digunakan 1 tahun sekali.
Barang-barang tidak lagi diperiksa di sini, jadi tinggal siapkan passport / dokumen perjalanan, menunggu jadwal pemberangakatan, lalu.... Naik Pesawat.
Menariknya, di sini tidak ada proses check-in ke perusahaan penerbangan :)
Sabtu, 06 Februari 2010
Sampai di Airport Cengkareng
Mengingat di Airport ini dilakukan pemeriksaan oleh Petugas Cukai/Imigrasi, perlu diperhatikan disini bahwa barang boleh dibawa oleh calon jemaah haji adalah dua tas yang telah disediakan oleh Panitia. Yaitu tas pinggang diset untuk menempatkan dokumen-dokumen penting, dan tas jinjing untuk tempat keperluan sehari-hari.
Isi tas dan bawaan yang dilarang adalah cairan tidak lebih dari 100ml, dan senjata tajam, termasuk pisau cukur jenggot. Banyak jemaah yang akhirnya membuang barang-barang yang telah disediakan sebelumnya dan harganya cukup mahal, seperti pisau lipat, cukur jenggot elektronik, dll. Sayang juga...
Siapkan Dokumen pengenal sebelum melewati tim pemeriksa tersebut, dan buang ke tong sampah barang-barang yang dilarang tersebut. Saya melihat banyak juga oknum yang memanfaatkan kesempatan ini di sana, sehingga barang-barang yang dibuang mereka kumpulkan :)
Gelang jemaah haji
Pembagian Passport dan Biaya Hidup
Gelang sebagai identitas yang dibagikan panitia harus selalu digunakan, gelang tersebut terbuat dari metal, di sana tertulis identitas jemaah, seperti nama, kloter dan emberkasi, nomor passport, serta bendera Indonesia.
Menurut panitia pada hari sebelumnya, Identitas yang ada pada gelang tersebut harus sama dengan dokumen resmi jemaah, jika terdapat perbedaan harus diganti. Namun, pada hari penyerahan kata panitia juga, tidak apa-apa berbeda, yang penting passportnya benar :)
What ever you say lah :)
Masing-masing jemaah diberikan bekal untuk living cost (Biaya Hidup) selama perjalanan sebesar 1500 SR (SR=Saudi Real). Menurut pengamatan Penulis, uang living cost tersebut sebetulnya cukup untuk selama di sana, asal tidak digabungkan dengan anggaran tidak terduga lainnya, seperti shopping, jajan, belanja, beli oleh-oleh, dll (sama aja ya, he3x).
Ciri khas Agar Mudah Dikenali
Begitu juga dengan masing-masing rombongan, mereka membuat cirikhasnya masing-masing. Rombongan kami memilih sebuah untel-untel (semacam bola terbuat dari kain), untel-untel ini pada laki-laki ditempelkan pada kopiah/peci, sedangkan untuk wanita ditempelkan dikepala pada kain jilbab yang mereka kenakan. Disamping itu, kami juga diberi satu kacu/kain segitiga berwarna kuning yang sangat disarankan untuk selalu digunakan, sehingga dapat mudah dikenali oleh sesama anggota lainnya.
Hal ini bisa dianggap sepele untuk kondisi tertentu, namun dalam banyak hal penggunaan identifikasi ini sangat membantu. Misalnya pada saat berada pada keramaian yang amat padat, mungkin saja ada yang hampir nyasar, namun karena mengenal identitas kawan satu regu/rombongan/kloter tentu suatu kelompok dapat dengan mudah menyatu kembali.
Penulis menyarankan untuk membuat suatu identifikasi yang mudah dilihat dari jauh dan warna yang menarik.
Untel-untel kami ini sering ditertawakan atau bahkan membuat orang lain tersenyum. Biarkan saja, yang penting kelompok kita selamat di daerah antah berantah yang mungkin belum pernah kita kunjungi sebelumnya :)







